Kamis, 16 Maret 2017

Separuh Hati

Dunia,
Apa yang telah kau perbuat pada teman-temanku?

Lihatlah, kini keangkuhan meraja
Menggema dalam jiwa
Benteng-benteng mencipta jarak luar biasa
Tak ada lagi yang peduli dengan kumpulan kami
Semua berlari, semua berteriak
Semua menjauh

Tak ada lagi yang peduli
Hanya tahta dan nama yang kini bersemayam
Dalam hati

Lalu kami makin merasa sepi, makin merasa senyap
Hampa, kosong
Dan merasa tak berguna

Lalu kami hanya dapat tergugu dalam sunyi
Tak ada lagi yang peduli
Dan separuh hati kami terbang meninggi
Tinggi, dan terus meninggi

-REWRITE, 21 Oktober 2008-

Warna Warni

Kanvas warna-warni, warna tabrak lari
Mungkin memang tak indah, tapi membuat rindu
Ingin bertemu

Memang kebodohan yang nyata
Sekaligus menggores senyum, tak putus-putus
Malu-malu mengakui
Andai senyumnya untuk aku

Dan andai dulu tak bertemu!

Biar tak begini
Gumpalan dalam dada ini membuat sesak
Bila saja dapat kukatakan
Biar bulan melihat, biar matahari menonton
Tapi tak begini
Sungguh, opera sabun yang melelahkan

-REWRITE, 2009-

Sabtu, 04 Maret 2017

Lima Menit

Suara jam dinding berdetak di penghujung sepi
Membeli kesedihanku

Biru menyelimuti sekujur tubuhku

Tidak hangat, tidak dingin
Tapi meresap ke sukma

Lima menit, lima menit lagi

Ada sisa-sisa luka kemarin sore
Menunggu kering
Atau layu?

Ini lelah sekali
Ku jual saja sisa-sisa semuanya
Ku beri sia-sia

-3 Maret 2017-

Jumat, 24 Februari 2017

Mind, ANT(s), and Trolls

Sebelumnya saya mau bilang kalau tulisan ini bukan review film Trolls :D

Tapi saya memang akan mulainya dari Trolls. And sorry before, this writing (maybe) will contain minor spoilers~

Trolls, terutama Poppy sang tokoh utama, khas dengan ke-positif-an mereka dalam memandang segala sesuatu. Mungkin memang dicirikan dengan kebiasaan mereka bernyanyi dan menari, ciri khas sebagai film animasi untuk anak, namun dasarnya adalah pandangan positif yang selalu mereka pegang.

Trolls memiliki tubuh berwarna-warni yang indah, yang awalnya saya pikir tidak ada arti dari warna itu. Hanya karena, yah namanya juga kartun. Saya pikir begitu.

Namun ternyata warna-warni tubuh mereka dapat memudar menjadi semacam warna kelabu, dan layar menjadi seperti televisi hitam putih. Hal ini terjadi ketika mereka mulai berpikir negatif dan menghilangkan semua pikiran positif dari diri mereka.

Mungkin Trolls bukan film pertama yang memiliki nilai akan pentingnya pikiran positif. Namun sebelumnya jika saya menonton film semodel begitu yang membawa nilai semacam itu, saya hanya mengangguk-angguk dan membatin, ah namanya juga kartun.

Tapi karena kebetulan saya menonton film ini setelah memahami hubungan antara mind dan ANTs, saya mengangguk benar-benar dengan sepenuh hati. Ya, memang begitu adanya. Ya, itu bukan basa-basi kisah anak kecil semata.

Saya membaca mengenai ANTs ketika saya berada di posisi yang sangat buruk. Entah apakah orang lain pernah mengalaminya atau tidak, tapi saya tidak tahu harus mencari jalan keluar dari mana lagi atas situasi yang saya alami saat itu. Sampai akhirnya saya, mendekati putus asa, mengetik di mesin pencari: how to tame monster inside yourself.

Saat itu saya belum mengenal istilah ANT. Yang saya rasakan hanyalah ada sesuatu yang besar dalam diri saya, sesuatu yang buruk, sesuatu yang salah; yang mempengaruhi hampir keseluruhan hidup saya. Yang saya tidak tahu apa itu namanya, jadi saya juga tidak bisa bertanya pada orang lain mengenai hal itu.

Ketika mengetik kalimat tersebut, saya menemukan berbagai tulisan mengenai ANT. Kabar baiknya, ternyata itu bukanlah monster yang merupakan bagian dari diri saya, atau bahkan diri saya sendiri (yang mana ini adalah hal yang sangat saya takutkan). Kabar buruknya, ANT ternyata berpengaruh jauh lebih besar dari yang saya bayangkan.

ANT adalah Automatic Negative Thought(s), atau dalam bahasa sederhananya adalah pikiran negatif. Pikiran negatif sebenarnya bukan hal yang baru lagi, sudah sering kita dengar. Setiap saya membaca berbagai tips tentang kehidupan, hampir selalu berisi: hindari pikiran negatif. Tapi hampir setiap membaca juga, saya hanya ber-ya ya ya. Tidak menanggapi dengan serius hal itu. Ayolah, siapa yang tidak tahu kalau kita harus menghindari pikiran negatif?

Namun dengan konsep ANTs tersebut, saya jadi lebih menyadari betapa besar peranan pikiran negatif itu. Seperti yang ditulis di salah satu situs yang saya baca, kita harus belajar menghentikan ANTs atau mereka akan menghancurkan hidup kita.

Dan itu benar. Saya mengalaminya.

ANTs dianalogikan seperti semut (ant) yang muncul saat kita piknik, saya mengutip dari salah satu situs yang saya baca. Kalau jumlahnya hanya satu atau dua, mungkin tidak akan menjadi masalah. Tapi kalau yang datang segerombol semut, mereka akan membuat kita harus pindah dari tempat piknik itu. Menghancurkan piknik kita.

Begitu juga dengan peranan ANTs dalam pikiran kita. Ketika muncul satu dua pikiran negatif, kita membiarkan pikiran itu menyatakan diri dengan kuat sehingga kita pikir itu adalah hal yang benar. Pikiran kita menyetujui apa yang ANTs katakan, dan pikiran itu menggerakkan tubuh kita, mengontrol apa yang akan kita lakukan. Dan akhirnya, ANTs itu menjadi kenyataan.

Analogi sederhananya begini: saya berniat ingin mempelajari sesuatu yang baru, tapi muncul di kepala saya pikiran negatif bahwa, ah sudah susah mempelajari hal yang baru lagi umur segini. Pikiran saya pun membenarkan pikiran negatif itu, dan beranggapan ya sudahlah buat apa belajar kalau nggak akan bisa. Akhirnya saya tidak melakukan apa-apa untuk mempelajari hal baru itu karena berpikir akan percuma saja. Akhirnya, pikiran negatif tadi menjadi kenyataan; bahwa saya tidak bisa mempelajari hal baru.

Bagaimana menghadapinya?

ANT-eater.

Kita bisa menuliskan ANTs yang muncul di kepala kita, lalu hadapi satu persatu mereka. Konfrontasi, talk back. Apakah memang pikiran-pikiran itu benar?

Misalnya soal yang tidak bisa mempelajari hal baru tadi. Saya tulis ANT itu, lalu saya pikirkan baik-baik, apakah itu benar? Saya tulis lagi balasan  dari saya, siapa bilang tidak bisa? Toh saya belum mencobanya. Toh itu masa depan yang belum saya alami, dan saya bukan peramal yang bisa menebak apa yang terjadi di masa depan.

Dan cara ini sangat, sangat efektif. ANTs seperti kabut yang menutupi pikiran, begitu dilawan habis; semua jadi tampak lebih terang. Hati pun lebih ringan. Dan yang terpenting, hal-hal yang tadinya tampak salah dan tidak ada harapan; jadi terlihat jauh lebih baik.

Dan saya dapat melangkah lagi. Setelah dihambat oleh ANTs itu.

Haruskah ditulis? Saya sarankan iya. Karena ketika menulis, apa yang kita pikirkan lebih terstuktur dan jelas. Selama masih dalam kepala, ANT berputar kesana-kemari, menggaet ANT-ANT lainnya; menurut saya. Jadi lebih baik segera tuliskan ANTs supaya kita bisa berpikir logis untuk membalas dan menghadapi mereka.

Pertama, yang paling mendasar, kita semua perlu mengakui keberadaan ANT itu. Dan saya rasa hal itu memang tidak mudah, mengingat ANTs adalah hal buruk, dan tidak ada yang suka mengingat hal buruk. Selama ini saya selalu mengalihkan pikiran saya jika ANTs muncul, menunda untuk membahasnya dengan diri saya.

Tapi yang namanya menunda, suatu saat ia akan datang lagi. Beserta rombongan. Karena ANTs yang terlalu lama berdiam dalam kepala akan berkembang menjadi ANTs lainnya dan lebih banyak. Kalau sudah terlalu banyak, mereka akan semakin mengontrol pikiran kita. Dan kelanjutannya adalah, pikiran mengontrol tindakan kita. Dan tindakan membentuk keseluruhan hidup kita.

Karena itulah saya jadi lebih bisa relate ketika menonton film Trolls.Ya, memang sedemikian besarnya peranan pikiran negatif atau ANTs. Yang di dalam film itu dapat merubah warna seseorang, membuat hidupnya kusam dan suram. Bukan bullshit atau overdrama, tapi memang begitulah kenyataannya.

Saya pernah membaca sebuah manga berjudul QQ Sweeper, yang menceritakan tentang pembersih (ini bahasa saya saja, saya lupa apa istilahnya di manga itu) yang tugasnya membersihkan ruangan kotor; yang ternyata hati manusia. Di ruangan itu banyak berbagai serangga yang membisikkan pikiran-pikiran negatif pada pemilik hatinya. Untuk membersihkan ruangan itu, seorang pembersih harus berani mengusir dulu serangga-serangga itu. Kalau si pembersih takut, serangga akan semakin besar. Tapi kalau si pembersih berani, serangga-serangga itu yang akan takut dan dapat diusir dengan mudah.

Jadi daripada membiarkan ANTs terus memakan pikiran kita, memakan akal sehat kita, kita perlu mulai memberanikan diri untuk mengakui keberadaan mereka. Dengan begitu, kita baru bisa menghadapi mereka perlahan-lahan. Sampai habis.

Ketika mereka muncul, hadapi lagi. Terus begitu. Seperti halnya tubuh yang kotor dan perlu dibersihkan setiap hari, begitu juga pikiran kita. ANTs harus terus disapu bersih, kalau tidak mereka akan terus menggerogoti pikiran kita.

Saya menulis tulisan ini tidak dalam rangka apapun. Tidak dalam rangka mengikuti lomba, give away, tugas kampus (sok masih jadi mahasiswa :D), atau semacamnya. Hanya saja saya rasa, sayang sekali kalau saya sudah memahami soal apa itu ANTs, soal hubungan tiga hal dari judul tulisan ini; tapi tidak saya share kepada orang-orang. Benar-benar sayang sekali.

Bukannya saya jadi orang yang tiba-tiba memperhatikan dunia sosial, kemanusiaan, dan semacamnya. Saya hanya pernah mengalami bagaimana ANTs benar-benar mempengaruhi hidup saya, membuat saya benar-benar kehilangan arah hidup; dan  bahasa ekstrimnya mungkin itu semua membuat saya 'lumpuh' karena tidak bergerak dengan berarti dalam hidup saya. Saya pernah mengalami semua itu, mengalami bagaimana tidak berdayanya dan kacaunya keadaan itu. Jadi saya berharap dengan tulisan ini dapat sedikit membantu orang-orang yang mungkin mengalami keadaan seperti saya.

Tapi kalau ditanya, apakah saya ditolong oleh situs-situs ANTs dan para ahli yang menjelaskan dengan detail?

Saya akan menjawab dengan tegas: tidak. Bukan mereka yang menolong saya.

Allah yang menolong saya. Dia yang menuntun saya memiliki sisa-sisa kesadaran untuk menyelamatkan diri saya, yang berujung dengan menemukan berbagai penjelasan logis mengenai ANTs. Sebelumnya, saat saya masih tidak tahu harus apa, saya hanya bisa berdoa: Ya Allah, tolong selamatkan aku. Selamatkan aku.

Dan Allah menyelamatkan saya. Dengan berbagai cara yang tidak pernah saya sangka.

Jadi yang terpenting adalah, jangan lupa berdoa dan terus berdoa. Karena bagaimanapun juga, pada hakikatnya kita adalah makhluk yang lemah dan tidak punya daya sama sekali, kalau Allah tidak memberikannya.

Kembali lagi soal ANTs, mungkin tulisan saya ini masih terlalu mengawang untuk memahami lebih mendalam soal konsep itu. Selengkapnya bisa dibaca melalui situs ini atau ini.

Selamat berjuang melawan ANTs. Semoga kita semua selalu dapat kembali menemukan jalan pulang :)

Sabtu, 18 Februari 2017

Majas

Mungkin kita potongan kayu yang layu tersiram hujan semalaman

Mungkin kita tetap teronggok di sudut, tertutup awan
Mereka bilang akan ada pelangi;
tapi jaman sekarang rumor lebih banyak didengar dibanding sepotong kata hati

Mungkin kita jiwa-jiwa indah yang terbentur sunyi
Tak lagi percaya pada matahari

Mungkin kita berani mencintai, tapi tak cukup berani untuk dicintai

-18 Februari 2017-

Selasa, 07 Februari 2017

A First Look at "Tomorrow With You"

New tvN drama!

Sama seperti review sebelumnya, sebelumnya saya mau menyampaikan kalau review ini hanya sekedar pendapat, prefensi, dan selera saya yang bukan ahli apapun; cuma seorang yang seneng banget nontonin drama. And this review will contain some spoilers :)
It's not official poster, but I really like this cut

Alasan saya mau nonton drama ini adalah karena para pemerannya. Saya nggak ngefans sama Shin Min Ah, tapi cukup sering nonton drama-dramanya karena bagus-bagus. Kalau Lee Je Hoon, saya belum nonton Signal tapi berhubung banyak review yang bilang kalau drama itu bagus; saya jadi tersugesti kalau aktingnya pasti bagus juga.

Untuk sinopsis sendiri, awalnya saya nggak begitu tertarik. Yang saya baca di internet kayak cuma: kisah time traveler dan wanita yang akan jadi istrinya. Cuma pas lihat trailernya, sedikit-sedikit mulai tergambar. Saya akan buat sinopsis sesuai dengan yang saya tonton dua episode pertama :)

Jadi drama ini bercerita tentang time traveler, Yoo So Joon (Lee Je Hoon) yang harus berurusan sama Song Ma Rin (Shin Min Ah) karena mereka meninggal di waktu yang sama pada masa depan. Yoo So Joon melihat dirinya dan Song Ma Rin di masa depan meninggal bersama di waktu yang sama, dan memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut siapa sebenernya Song Ma Rin itu di masa sekarang. Yoo So Joon berpikir, sebenernya karena 'hasutan' ajussi sesama time traveler, kalau Song Ma Rin mungkin aja kunci yang bisa menyelamatkan nyawanya.
Drama ini tayang di tvN setiap Jumat dan Sabtu, 20:00 KST.

Sebenernya ketika saya berpikir untuk buat review first two episodes untuk drama ini, nggak banyak yang bisa saya ulas. Karena menurut saya emang nggak banyak yang diperlihatkan di dua episode awal ini, cukup sederhana dan nggak rumit. Tapi tetep aja saya rasanya kepengen buat review nya haha.

Awal-awalnya saya agak kesel lihat tokoh Song Ma Rin, karena terlalu sensitif dengan pemberitaan tentang dirinya yang sebenernya bukan public figure. Juga dia yang kepedean dan kegeeran karena mikir Yoo So Joon suka sama dia.
 What the... (1)
 What the... (2)

Tapi kesini-sininya, saya mulai merasa simpati dan bisa relate dengan tokoh Song Ma Rin ini. Song Ma Rin adalah mantan aktris cilik, Bap Soon, yang sampai sekarang masih ada aja artikel tentang dirinya. Masalahnya, artikel-artikel itu menuliskan tentang 'kehancuran' hidup mantan aktris cilik Bap Soon; yang membuat orang masih aja inget dia tapi buat dicaci maki doang. Cukup ironis memang.

Hal yang bikin saya agak kaget adalah Yoo So Joon yang emang time traveler, penjelajah waktu dalam arti sebenarnya. Pas saya baca sinopsisnya (sebelum drama ini tayang), saya pikir time traveler yang dimaksud adalah orang dari masa lalu datang ke masa sekarang, atau orang dari masa depan datang ke masa sekarang; dan harus menetap di tempat yang ia datangi. Karena biasanya begitu kan yang ada di time travel drama. 
Tapi Yoo So Joon ini emang penjelajah waktu secara harfiah, dia bolak-balik dari masa sekarang ke masa depan. Kalau mau pergi ke masa depan, dia tinggal naik kereta. Balik dari masa depan juga pulangnya naik kereta. Semacam komuter PP Jakarta-Bekasi wkwkwk.
Itu hal yang unik menurut saya, karena agak beda dari kisah time travel lainnya. Dan sempet bikin saya ngebatin, ih enak banget dia bisa ngelihat apa-apa di masa depan. Kita kan pasti sering punya pertanyaan-pertanyaan seputar gimana nanti, Yoo So Joon tinggal naik kereta dan lihat. Meski kalau dipikir lebih jauh, nggak seru juga sih kalau apa-apa udah tahu ya ~

Karena ini pertama kali saya nonton Lee Je Hoon sebagai lead, saya nggak punya banyak ekspektasi terhadap aktingnya. Dulu emang pernah nonton Architecture 101, tapi udah lama banget dan lupa. Sedangkan Signal juga belum nonton. Jadi saya nggak bisa membandingkan gimana aktingnya di drama ini. Tapi so far, saya seneng dengan tokoh Yoo So Joon yang tampak easy going tapi seolah menyimpan sesuatu yang besar (yang saya duga luka) dalam dirinya. Dan sempet terlintas kekhawatiran juga kalau sikap easy going yang seenaknya itu bakal bikin Yoo So Joon mendapat masalah nantinya. Tapi  semoga aja enggak. 

Seperti yang saya bilang sebelumnya, dua episode pertama ini nggak terlalu banyak memunculkan banyak hal. Pertemuan Yoo So Joon dan Song Ma Rin nggak diulur lama, dan nggak dibuat terlalu dramatis. Dari awal juga udah dibilang permasalahan utamanya, yaitu Yoo So Joon yang mau tahu siapa Song Ma Rin itu; padahal sebelumnya dia nggak pernah mau ikut campur sama hidup dan masa depan orang lain. Yang meski habis kenal dia jadi nyesel wkwkwk. 

Di luar itu, drama ini lebih banyak membahas bagaimana latar keadaan hidup Song Ma Rin dan Yoo So Joon. Dan saya menangkap kesan kalau drama ini nggak dengan sengaja menyimpan hal-hal 'besar' atau 'bagus', nggak maksain melakukan 'save the best for the last', nggak dengan lebay ngumpet-ngumpetin misteri yang niatnya biar orang penasaran tapi malah bikin bingung; dan itu justru membuat saya cukup nyaman dan menikmati nontonnya. Kayak lebih dilepas aja, jadi lebih mengalir ceritanya. Seperti fakta bahwa Yoo So Joon dan Song Ma Rin yang ternyata pernah bertemu beberapa tahun sebelumnya yang kemungkinan bakal jadi alasan pertalian takdir mereka; udah ditampilkan di episode dua.

Dua episode awal ini nggak wah, tapi steady. Memang drama ini punya tema misteri dan pertalian takdir yang besar, tapi nggak terkesan dibesar-besarkan. Sebenernya saya sempet inget drama Another Oh Hae Young pas nonton drama ini, karena agak mirip dari segi porsi episode pembuka menurut saya. Pelan-pelan menanjak, semacam itu lah. Karena itu saya jadi punya ekspektasi lumayan besar akan perkembangan plot drama ini. Meski takut juga tahu-tahu nanti zonk, tapi mudah-mudahan aja enggak.

Jadi tentu saja, saya akan terus melanjutkan nonton drama ini. Semoga ke depannya drama ini nggak mengecewakan :)
For some reason, I like this scene LOL

Selasa, 31 Januari 2017

Penuh

aku sekarang tak mau berbagi
madu atau racun
terang atau gelap
karena tasku sudah terlalu penuh,
bahkan untuk ditambah setetes rintik hujan
atau sehelai hembusan angin

-31 Januari 2017-